Ketaatan Melangkah: Percaya, Taat, dan Melakukan Firman (Matius 14:22-33) - Togu Sihite

Hebrew Bible/Old Testament - Books - Poetry - Music - Batak

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Friday, April 24, 2026

Ketaatan Melangkah: Percaya, Taat, dan Melakukan Firman (Matius 14:22-33)

Pendahuluan

Pernah suatu waktu seorang pemain sirkus hendak berjalan menggunakan seutas tali di atas ketinggian 100 meter. Pemain sirkus tersebut melakukannya dengan sangat mudah dari titik A ke titik B yang berjarak 15 meter. Dia bahkan berjungkil balik di tengah perjalanannya menuju titik B. Selanjutnya, dia meminta kepada penonton cilik jika ada yang mau untuk digendong olehnya di atas pundaknya, lalu dia akan berjalan di atas tali yang tadi. Sontak para penonton menolak kecuali seorang anak kecil berusia sekitar 7 tahun. Dia dengan senang hati mengangkat tangannya dan dengan berani tampil ke depan. Dia pun naik ke atas pundak si pemain sirkus. Lalu si anak tadi dibawa melewati tali tersebut. Para penonton pun berdecak kagum melihat keberanian si anak tersebut. Namun, seorang penonton bertanya kepada si anak tadi mengapa dia bisa seberani itu. Si anak pun menjawab bahwa dia percaya bahwa ayahnya takkan mencelakainya.

 

Sepenggal pengalaman di atas memperlihatkan bahwa si anak tidak hanya mengikuti perkataan si pemain sirkus, tetapi juga percaya bahwa si pemain sirkus tidak akan mencelakakannya sebab dia tahu bahwa si pemain sirkus adalah ayahnya.

 

Teks Pendalaman Alkitab bulan ini memperlihatkan Yesus berjalan di atas air. Yesus, setelah selesai berdoa di puncak bukit, menghampiri murid-muridnya yang berada di atas kapal. Sayangnya, kapal tersebut terhempas angin yang menyebabkan kapal menjauh dari dermaga. Melihat Yesus berjalan di atas air, para murid ketakutan. Para murid takut karena mereka merasa terancam dan berada dalam bahaya. Mereka takut hantu! (ay. 26). Yesus pun menyatakan diri agar mereka tidak takut. Singkatnya, Petrus pun diminta untuk berjalan di atas air untuk datang kepada Yesus. Akan tetapi, ketika dia berjalan beberapa langkah, tipuan angin menakutkannya sehingga dia terjatuh ke dalam air.

 

Iman: Kesetiaan vs Ketaatan

Yesus berujar: Hai, orang yang kurang percaya (ay. 32). Secara literal: iman yang sedikit – iman yang kecil. Frasa ini dari kata oligópistos terdiri dari kata olígos, "little in number, low in quantity", dan pístis, "faith". Yesus juga menggunakan kata yang sama di Mat. 8:26: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Kata ‘iman’ di dalam bhs. Kata 'faith' membentuk kata 'faithfulness' (ketaatan atau kesetiaan). ‘Ketaatan’ di sini merupakan bagian penting dari tindakan setia atau kesetiaan. Kata ketaatan juga dapat menggunakan kata “obedience” di dalam bahasa. Inggris. Ketaatan (obedience) berbeda sekaligus juga bersinggungan dengan kata kesetiaan. Perbedaannya secara mendasar adalah orang yang menaati (obedience) aturan belum tentu serta-merta setia atau percaya (faithful). Oleh sebab itu, kata ‘ketaatan’ pada tema merujuk kepada ‘keyakinan,’ Ing. faithful.

Contoh:

Seorang murid taat mengerjakan tugas yang diperintahkan guru agar pintar. Namun, murid tersebut belum tentu serta-merta yakin bahwa mengerjakan tugas dapat membuatnya pintar.

 

Firman atau Perintah?

Firman atau logos juga memiliki keterkaitan dengan perintah, sebab di dalam Firman juga terdapat perintah. Namun, perintah sifatnya sangatlah determinatif dan mengikat. Firman atau logos ajakan atau undangan yang tidak memaksa, tetapi terbuka untuk diterima dan dihidupi oleh pendengar firman – perkataan – logos. Secara teologis, Yesus sendiri adalah Firman yang menjadi manusia (Yoh. 1:14). Selain itu, para pengikut Yesus juga memandang bahwa perkataan dan pengajaran Yesus mencakup perintah bagi pengikut-Nya. Dengan demikian, firman di sini dapat dimaknai juga sebagai perintah. Yesus sendiri di dalam teks berkata, “Datanglah!” Kata ini dari Yun. eltho dalam bentuk imperatif. Kata yang sama juga digunakan di Matius 16:24, “Setiap orang yang mau mengikut Aku (lit. ‘datang kepadaku’), ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Datang kepada Yesus berarti membutuhkan iman, berserah penuh, dan menjalankan firman-Nya. Pertanyaannya adalah bagaimana para murid merespons firman Yesus.

 

Petrus dan Imannya

Kelebihan Petrus: Tidak ada yang ragu terhadap besarnya cinta kasih Petrus terhadap Yesus. Dia adalah murid yang bersama Yesus paling banyak disorot dan berinteraksi langsung dengan Yesus di dalam Alkitab. Dia murid yang pertama kali terpanggil untuk turut di dalam pelayanan Yesus. Dia bahkan mengaku bahwa Yesus adalah Mesias, anak Allah yang hidup (Mat. 16:16). Petrus, yang juga disebut sebagai batu karang (petra), menjadi fondasi jemaat Tuhan (Mat. 16:18). Namun, dia juga murid yang justru menyangkal Yesus tiga kali (Mat. 26:69-75). Kita dapat melihat bagaimana Petrus begitu mengasihi Yesus sampai-sampai dia menegur Yesus ketika memberitahukan tentang penderitaan dan kematian-Nya (Mat. 16:21-28). Petrus juga yang menghunuskan pedang ketika Yesus hendak ditangkap (Yoh. 18:10). Petrus dipuji sekaligus juga ditegur Yesus karena perilaku dan imannya. Dia percaya dan mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah. Akan tetapi, tindakannya memperlihatkan bahwa imannya kecil atau sedikit (oligópistos) dan bimbang (distazo).

 

Response Terhadap Firman Yesus untuk Melangkah: “Bimbang dan Takut”

Yesus ‘mengundang’ Petrus untuk berjalan di atas air dengan berkata: “Datanglah!” Petrus lantas melakukannya. Namun, tiupan angin membuatnya bimbang sehingga terjatuh. Ketakutan yang sama dialami oleh murid-murid lainnya ketika melihat Yesus berjalan di atas air. Ketakutan timbul karena merasa terancam. Di dalam teks, Petrus dan murid-murid memberikan gambaran yang jelas tentang cara pengikut Kristus merespons firman Yesus. Pertama, kita menerimanya dan melakukannya. Kedua, tantangan dan godaan datang dan menyebabkan kita ragu dan bimbang. Ketiga, pengikut Kristus sering kali terjatuh dan semakin jauh serta bahkan meninggalkan firman, panggilan, dan perintah Yesus.

 

Yesus berkata, “Mengapa engkau bimbang?” Kata Yun. distazo merujuk kepada bimbang dan ragu. Secara etimologis, distazo dari kata dís berarti "two, double" dan stásis, "stance, standing", dapat berarti “going two ways, shifting between positions; choosing a double stance." Petrus bimbang karena ketakutannya yang terlalu besar – setelah tiupan angin menerjangnya. Kata Yun. phobeó berarti “to frighten, to be alarmed; to be in awe of.” Kata ini juga digunakan ketika para murid melihat Yesus berjalan di atas air dan mereka takut (ay. 26). Kata ini juga digunakan dengan kata 'pobia'. Sedangkan di Mat. 8:26, Yesus menggunakan kata Yun. deilos berarti takut, pengecut, dan malu.

 

Bimbang dan takut adalah respons daripada Petrus dan para murid. Mengapa mereka, terlebih Petrus, bimbang dan takut? Sederhanya, mereka tidak memiliki iman yang ‘penuh’. Yesus sendiri menyebut iman Petrus ‘kecil’ atau ‘sedikit’ (oligópistos; ay. 32). Kenapa sedikit atau kecil? Sebab Petrus menempatkan kepercayaannya pada dua pegangan. Hal ini diterangkan oleh definisi dari kata distazo di atas. Apa pegangan yang lainnya? Ketergantungan pada pemahaman dan rasionalitas diri sendiri dan kuasa dunia ini.

 

Pertama, pemahaman dan rasionalitas diri sendiri. Petrus, sama seperti manusia pada umumnya, akan sulit memahami kuasa Yesus yang mampu berjalan di atas air. Singkatnya, rasionalitasnya tidak sampai kepada pemahaman akan kekuasaan Yesus atau akan ada yang mampu berjalan di atas air. Kedua, kuasa dunia ini. Kekuasaan sering kali menakuti kita karena lebih besar dari kemampuan kita. Petrus, ketika ditiup angin, mendadak takut dan terjatuh. Kuasa dunia ini memang lebih besar daripada kuasa kita manusia. ‘Dunia’ ini sering kali menjadi penggoda dan penghambat orang percaya untuk datang kepada Yesus. Yesus juga berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mat. 16:23). Konteksnya adalah ketika Yesus memberitakan kematian-Nya. Petrus menegor/mengingatkan (Yun. epitimao) Yesus. Tetapi Yesus menegaskan bahwa Allah memikirkan sesuatu yang berbeda dengan manusia.

 

Datang kepada Yesus: Proses Melangkah

Itulah sebabnya, Matius 16:24 memberikan jawaban atas tantangan dunia ini, yakni ia harus menyangkal dirinya – menghilangkan kedirianmu; memikul salibnya – bergumul di dalam iman atas tantangan hidup, bukan lari; dan mengikuti Yesus – berjalan di dalam kesetiaan (faithful) di dalam firman-Nya.” Datang dan mengikuti Kristus membutuhkan tanggung jawab. Namun, tanggung jawab itu bukanlah beban melainkan panggilan yang dijalankan dengan sukacita. Sukacita di dalam memikul salib itu hanya mampu dipahami di dalam bingkai iman. Oleh karena itu, pertanyaannya adalah “percaya baru paham” atau “paham baru percaya.”

 

Percaya Baru Paham atau Paham Baru Percaya?

Yesus berkata, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya (Yoh. 20:29). Ini menegaskan bahwa percaya atau beriman menjadi kunci dalam mengikuti Yesus. Dunia dan filosofi serta pengetahuannya mengajarkan umat manusia untuk memahami sesuatu dari peristiwa dan pengalaman. Peristiwa dan pengalaman tersebut kemudian diformulasi menjadi pemahaman umum yang kemudian kita sebut ilmu pengetahuan. Tentu kita sangat mengapresiasi pengetahuan yang membuat hidup kita di masa kini semakin mudah dengan berbagai macam hambatan dan tantangannya. Namun, iman itu sendiri adalah pengetahuan. Iman menjadi pengetahuan akan apa yang tidak kelihatan (Ibr. 11:1). Alkitab mencatat beberapa contoh seperti perempuan yang sakit perdarahan, dua orang buta, dan seorang bisu (Mat. 9:18-34). Yesus berkata, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Mat. 9:22). Iman mereka membawa kepada pemahaman akan siapa itu Yesus.

 

Pemahaman dan Keterbatasan

Nyatanya, tidak semuanya dapat dijelaskan dan diterangkan oleh pengetahuan. Sadar atau tidak, ada fenomena yang tidak bisa dijelaskan oleh pengetahuan. Kecenderungannya adalah bahwa apa yang di luar pengetahuan itu sering dipandang sebagai fiksi, khayalan, metafora, dan imajinasi. Pemahaman yang benar sering diukur pada tingkat rasionalitas dan empirisitas. Terlebih semenjak Abad Pencerahan (Renaissance), umat manusia mengedepankan proses reasoning terhadap segala sesuatu. Dari sini, timbul pertanyaan: apakah kita mampu untuk menjangkau sesuatu yang di luar dari apa yang dipahami dunia ini? Sederhananya, ya dan tidak. Ya, dengan demikianlah terbentuk pengetahuan baru. Tidak, karena apa yang terjadi itu di luar rasionalitas dan empirisitas. Saat yang bersamaan, pola ini sebaliknya membentuk keterbatasan kita di dalam memahami Kuasa Yesus. Perihal yang sama juga ditunjukkan oleh Petrus di dalam teks. Oleh karena itu, sikap yang tepat adalah mengakui bahwa ilmu pengetahuan telah memahami dunia ini. Namun, itu bukanlah satu-satunya cara untuk mengetahuinya.

 

Sketsa:;

Pemahaman: Rationalitas + Empiris -> Buntu/Keterbatasan

Iman: Melampaui Rationalitas + Empiris -> Pemahaman

 

Iman dan Percaya: Berserah dalam Melangkah (Pergumulan)

Iman memimpin kita untuk menjalani dan mengalaminya di dalam pengharapan dan pimpinan Yesus Kristus. Dari sana, iman membawa kepada pengenalan akan rencana dan panggilan Tuhan atas hidup kita. Iman mengarahkan kita untuk berserah. Berserah adalah implikasi dari kepercayaan atau ketaatan (faithfulness). Iman tidak memaksa, melainkan terpanggil dan bersukacita di dalam menjalaninya.

 

Untuk mencapai tingkatan berserah, tentu kita membutuhkan proses. Iman kita seperti tanaman yang harus disiram dan dipupuk serta diletakkan di tengah terang cahaya matahari. Dengan tindakan ini, pertumbuhan dapat diharapkan. Yesus merujuk iman Petrus ke dalam besaran kecil atau sedikit (oligópistos). Ini setidaknya menggambarkan bahwa iman kita dapat bertumbuh dan menjadi besar atau banyak. Gambaran ini hendak menjelaskan bahwa iman kita kepada Yesus Kristus dapat menjadi kuat. Kekuatan iman inilah yang memberikan daya tahan terhadap tantangan hidup untuk melangkah bersama Yesus Kristus.

 

Tanpa Kondisi Tertentu (Unconditional) dan Kondisional (Conditional)

Jika kita melakukan sesuatu karena aturan atau paksaan, maka itu bukanlah panggilan atau iman. Tentu, itu bukan berarti iman ada bukannya tanpa sebab. Iman adalah ketika kita merespons anugerah Kristus kepada kita tanpa paksaan atau tertekan. Singkatnya, ketaatan (faithfulness) adalah buah dari iman. Ketaatan itu tanpa syarat (unconditional) sebab itu merupakan wujud dari iman itu sendiri. Sebaliknya, ‘ketaatan’ (obedience) yang dengan syarat bukanlah ketaatan atau kesetiaan (faithfulness) yang diminta oleh teks ini. Kita bisa saja taat terhadap aturan negara di mana kita tinggal, tetapi bukan berarti kita setuju atau terpanggil untuk melakukannya dengan sepenuh hati. Di sini makna ketaatan yang disertai syarat tertentu (conditional).

 

Kondisionalitas menuntut kondisi-kondisi tertentu. Kondisi tersebut merupakan syarat agar tercapainya sesuatu atau keadaan yang diharapkan. Sebaliknya, di dalam unconditionalitas, kita terpanggil untuk bertindak sebagai respons tanpa paksaan dan syarat. Ini yang dimaksud sebagai ketaatan – kesetiaan (being faithfull) bukan ketaatan – ditundukkan (obedience). Di dalam teks, Petrus diarahkan untuk melakukan perintah Yesus untuk datang kepada-Nya. Akan tetapi, dia bimbang di tengah langkahnya.

 

Sering kali kita bukannya tidak percaya, melainkan kurang percaya. Kita percaya kepada Yesus dan sekaligus terkadang bimbang. Kristus sendiri menyebut Petrus demikian, dengan sedikit iman (oligópistos). Kecendurungan kita memilih yang sudah pasti dan yang terjamin. Bimbang (distazo) bahwa Yesus adalah Anak Allah yang berkuasa atas dunia ini karena rayuan dunia. Selain itu, kecenderungan manusia adalah merasa yakin terhadap sesuatu ketika dapat dilihat, dijamah, dan dimiliki secara fisik. Benda atau sesuatu sering kali dijadikan sebagai Tuhan untuk memberikan efek bahwa Tuhan hadir. Kita sering menyebutnya sebagai jimat atau sembahan. Kata jimat atau sembahan di sini dipahami secara luas. Itu dapat berbentuk apa saja sepanjang dipahami bahwa ‘benda’ itu dipahami sebagai bagian atau kehadiran Tuhan.

 

Secara psikologis, kita memang lebih yakin terhadap apa yang kita lihat, pegang, dan miliki ketimbang yang tidak. Selain itu, sesuatu yang bisa diraih dan dipegang serta dibawa membuat kita dekat dan bersama. Selanjutnya, pegangan atau ‘jimat’ itu juga membuat seseorang merasa terlindungi. Oleh karena itu, tidak sedikit yang meletakkan kepercayaannya pada suatu benda.

 

Di dalam menjalani pergumulan hidup. Kita sering mempertanyakan kehadiran Tuhan. Sering kali keputusasaan membawa kepada kesesatan dan cenderung menjadi meninggalkan iman kepada Kristus. Sekali lagi, manusia cenderung memilih yang dapat digenggam dan dapat memberi jaminan instan. Tidak heran jika kecenderungan manusia menggunakan pengetahuan, uang, posisi, jabatan untuk bertahan dalam melangkah (pergumulan hidup). Semua ini berfungsi sebagai tameng pelindung. Akan tetapi, seluruhnya itu sesungguhnya tidak memberikan kepastian. Hanya di dalam Yesus ada kepastian walaupun kita belum melihatnya, sebab itulah iman, sesuatu yang kita harapkan dan menjadi bukti walaupun kita belum melihatnya (Ibrani 11:1).

 

Pesan Reflektif

Iman menghasilkan ketaatan dan kesetiaan kepada Kristus (faithfulness). Ketaatan yang dimaksud bukan karena paksaan atau aturan tertentu (obedience). Dari sini, kita diingatkan akan pentingnya membedakan melangkah ‘tanpa kondisi tertentu’ (unconditional) dan kondisional (conditional). Ketaatan – melangkah bersama Yesus – kesetiaan mengikuti-Nya melewati proses menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti-Nya. Iman adalah pengetahuan kita akan harapan. Iman yang memimpin kita mengenal bahwa Yesus bersama dan menemani kita melangkah. Petrus melangkah dan dia terjatuh karena bimbang. Yesus berkata kepadanya bahwa imannya kecil (oligópistos). Kenapa demikian? Sebab dia berada di persimpangan antara ‘berserah penuh’ dan ‘menggunakan pikirannya’. Petrus bimbang (distazo) karena ketakutannya yang terlalu besar – setelah tiupan angin menerjangnya. Oleh karena itu, iman yang kuat akan menolong kita berjalan melangkah bersama Yesus. Asalkan kita berserah di dalam Dia. Izinkan Kuasa Kristus bekerja atasmu lewat pergumulan hidupmu. Janganlah bimbang! Teguhkanlah imanmu! Ingatlah, Dia tidak jauh dan tidak juga meninggalkanmu. Tangan-Nya selalu memegangmu sebab Yesus adalah Anak Allah!

 

Diskusi dan Sharing:

1. Bagaimana langkah atau cara agar iman kuat dan setia? Apakah ini bisa dilakukan? Kenapa?

2. Bagaimana saudara melihat diri saudara berada di posisi Petrus? Mengapa demikian?

3. Bagaimana saudara menjelaskan pengalaman saudara ketika mengalami pergumulan berat

4. Apa saja proses atau tahapan yang kita lalui ketika bergumul? Bagaimana kamu merasakan bahwa Tuhan berbicara kepadamu lewat pergumulan itu?

No comments:

Post a Comment