Ragam Karunia dalam Satu Roh (1 Korintus 12: 3-11) - Togu Sihite

Hebrew Bible/Old Testament - Books - Poetry - Music - Batak

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Sunday, May 24, 2026

Ragam Karunia dalam Satu Roh (1 Korintus 12: 3-11)

Ada satu fenomena sosial yang umum kita temui di tengah masyarakat, bahkan di gereja, yaitu konflik. Konflik merupakan sebuah penyakit di dalam sebuah Masyarakat atau kelompok. Setiap orang mungkin pernah mengalaminya pada berbagai level, seperti di rumah bersama keluarga, di tempat kerja bersama rekan kerja, dan bahkan di gereja bersama sesama anggota gereja. Bagaimana konflik terjadi, dan di mana konflik dapat terjadi? I. William Zartman dan Sinisa Vukovic dalam buku berjudul Rethinking Conflict and Management menyatakan bahwa konflik memiliki banyak sebab dan jalannya sendiri. Konflik, menurut mereka, terjadi atas apa yang orang-orang inginkan dan juga atas siapa mereka (identitas diri). Di dalam masyarakat, konflik mencakup seluruh interaksi sosial di mana dua atau lebih aktor mempersepsikan tujuan-tujuan mereka sebagai eksklusif secara bersamaan dan melakukan tindakan sepihak untuk menilai kemampuan orang lain dalam mencapai kepentingan mereka. Interaksi sosial kemudian memperkuat regulasi dalam norma sosial yang memfasilitasi koordinasi di antara para aktor yang berpartisipasi dalam masyarakat. Ini yang kemudian kita miliki dalam disiplin gereja dan berbagai aturan di masyarakat.

Minggu ini, minggu Pentakosta, khotbah diambil dari 1 Korintus 12 yang mengingatkan kita akan isu konflik dan perpecahan di dalam gereja. Konflik menimbulkan perpecahan dan pengelompokan yang menghancurkan dan memecah belah gereja sebagai tubuh Kristus. Konflik berasal dari perbedaan di antara dua orang atau lebih yang ingin mendominasi bukan untuk Kristus, melainkan demi kebanggaan pribadi. Ego, arogansi, dan kesombongan membuat diri sendiri merasa lebih baik daripada orang lain dan memposisikan keinginan sendiri di atas orang lain. Sialnya, karakter ini, bagaimanapun, akan berhadapan dengan karakter yang sama dari orang lain. Di sinilah pertengkaran dan konflik muncul dan terjadi.

Jemaat Korintus adalah jemaat yang kompleks dan bermasalah. Pertanyaan tentang siapa yang terbaik dalam melayani di gereja merupakan isu utama di gereja di Korintus. Setiap anggota yang memiliki karunia dalam melayani di gereja membanggakan diri dan menganggap bahwa kemampuan itu adalah milik mereka. Singkatnya, seseorang berkata, “Saya lebih penting daripada kalian!” Lainnya juga berkata, “Saya lebih penting daripada kalian!” Bagaimanapun, Paulus mengajarkan gereja untuk bersatu dalam melayani, sebab kita melayani Tuhan yang sama. Dalam 1 Korintus 12:12-27, di luar bacaan kita, Paulus menekankan bahwa kita adalah satu tubuh dalam Kristus. Selain itu, Paulus dalam Kolose 1:18 dan Efesus 5:23 menulis bahwa Yesus Kristus adalah kepala gereja. Kita seperti tubuh yang mengikuti kepala (pikiran). Dengan demikian, apa pun karunia, talenta, kemampuan, hikmat, dan kekuatan yang kita miliki untuk menyokong gereja berasal dari Roh Kudus. Paulus menggunakan kata pneumatikos untuk menunjukkan bahwa kemampuan yang kita miliki berasal dari Roh Kudus. Tanpa Roh Kudus, kita tidak akan percaya dan berserah kepada Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat. Roh Kudus yang memampukan kita untuk mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan. Di dalam Roh Kudus kita merasakan kehadiran Kristus yang telah naik ke surga. Kita tidak sendiri di dunia ini karena Roh Kudus telah dicurahkan bagi kita. Inilah peristiwa Pentakosta, minggu yang sedang kita rayakan.

Pentakosta berasal dari kata Yunani pentekoste, yang berarti “kelima puluh”. Pentakosta adalah hari kelima puluh setelah kebangkitan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ini adalah 50 hari setelah Paskah. Pentakosta adalah peringatan akan turunnya Roh Kudus kepada para rasul dan para pengikut Kristus. Pentakosta juga merupakan peristiwa ketika tubuh Kristus, gereja, dideklarasikan di tengah dunia ini (Bnd. Kis. 2:1-13). Roh Kudus adalah pemenuhan janji Yesus Kristus akan Roh Kudus kepada murid-murid (Yoh. 14:16-17). Di dalam Roh Kudus, kita merasakan kehadiran Kristus yang telah naik ke sorga. Oleh karena itu, kita tidak sendiri sebab Roh Kudus telah dikirimkan untuk kita. Saudara dan saya tidak sendiri sebab Roh Kudus bersama kita saat ini dan di tempat ini. Ayat bacaan kita yang pertama (Epistel) memberitakan bahwa Tuhan memberkati Adam dan keturunannya, yaitu Kain. Tuhan hadir bersama mereka. Seperti Adam telah memproklmasikan: “Allah telah mengaruniakan (memberi karunia) kepadaku.” Di dalam bacaan ini kita juga melihat bahwa “Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN.” Memanggil nama TUHAN berarti adanya hubungan dan koneksi antara pencipta dan ciptaan; antara TUHAN dan umat-Nya. Dalam tradisi Timur Dekat Kuno, memanggil nama Tuhan umumnya menandakan keterikatan kepada Tuhan yang disembah. Adam dan keturunannya memanggil nama TUHAN sebagai sumber anugerah dan hadir bersama mereka. Di minggu Pentakosta ini, kita juga diingatkan bahwa TUHAN, melalui Roh Kudus, hadir bersama kita. Martin Luther berkata dalam Buku Katekismus Kecil, dalam penjelasan Pengakuan Iman: “Saya percaya bahwa dengan kemampuanku saya tidak dapat percaya kepada Yesus Kristus, Tuhanku, atau datang kepada-Nya. Akan tetapi Roh Kudus memanggilku melalui pemberitaan Injil, yang menerangiku dengan anugerah-Nya dan memuaskan dan melingkupiku dengan iman yang benar.” Di sini, Luther melihat bahwa manusia secara spiritual telah mati dan tidak dapat datang kepada Tuhan dengan kemampuan mereka sendiri. Oleh karena itu, Roh Kudus membangkitkan, menerangi, dan menarik setiap orang untuk datang kepada Kristus melalui pemberitaan Injil.

Roh Kudus diberikan kepada kita untuk memampukan kita menjawab panggilan-Nya dan berpartisipasi dalam pelayanan melalui karunia, talenta dan kemampuan kita. Roh Kudus adalah sumber kekuatan dan hikmat untuk melaksanakan panggilan-Nya. Satu hal yang penting adalah Roh Kudus memberikan talenta kita untuk kepentingan bersama yang mendatangkan damai sejahtera, bukan perpecahan.

Jika ada di antara kita yang membutuhkan hikmat, mintalah kepada-Nya. Jika ada yang membutuhkan kemampuan atau soft skill, berdoalah kepada-Nya. Hikmat, atau dalam bahasa Yunani Sophia, adalah kemampuan memahami sesuatu (pikiran atau teori), sedangkan pengetahuan, atau dalam bahasa Yunani Gnosis, merujuk pada keterampilan atau tindakan. Paulus juga menyebut karunia lainnya, seperti iman, penyembuhan, kuasa mengadakan mujizat, bernubuat, membedakan bermacam-macam roh, berkata-kata dalam bahasa roh, dan menafsirkan bahasa roh tersebut. Seluruhnya berasal dari Roh Kudus.

Benar bahwa kita berbeda dalam karunia yang kita peroleh. Akan tetapi, kita satu karena sumber karunia itu adalah Roh Kudus. Setiap kita memiliki karunia, kemampuan, talenta, hikmat, dan skill yang berbeda-beda, tetapi Roh Kudus menyatukan kita untuk melayani Yesus Kristus. Di dalam keunikan kita masing-masing, kita dimampukan oleh Roh Kudus untuk menjadi bagian dari gereja Tuhan. Satu hal yang pasti adalah bahwa karunia itu untuk kepentingan bersama dan kebaikan bersama yang mendatangkan damai sejahtera, bukan peperangan.

Refleksi Pastoral:

Minggu ini, kita merayakan turunnya Roh Kudus kepada kita masing-masing. Momen ini adalah tonggak ketika gereja memproklamasikan dirinya sebagai orang-orang yang percaya kepada Kristus, yang dipanggil dari kegelapan menuju terang Kristus. Di dalam perayaan Pentakosta ini, bagaimanapun, kita diajarkan bahwa banyak karunia diberikan kepada kita, dan semuanya berasal dari Roh Kudus. Oleh karena itu, kita diminta untuk bersatu demi melayani dan memuliakan Yesus Kristus. Pada akhirnya, minggu ini, kita diingatkan bahwa Roh Kudus bersama kita. Roh Kudus memberikan kepada kita karunia untuk bertahan dan memberitakan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat. Jika Roh Kudus bersama kita, berarti kita tidak sendiri. Jadikanlah Roh Kudus yang memimpin hidupmu. Amin.

No comments:

Post a Comment