Yesus Pemimpin yang Benar (Ibrani 13:7-17)

Bericara tentang pemimpin, kita mengenal beberapa pemimpin terkenal di dunia seperti Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr., Nelson Mandela, dll. Coba kita ingat kembali mengapa para pemimpin ini dikenal di dunia. Mahatma Gandhi dikenal kerena perjuangannya terhadap kolonialisasi Inggris atas India dengan gerakan anti-kekerasanya. Martin Luther King Jr dikenal dengan perjuangannya melawan diskriminasi rasial terhadap orang-orang berkulit hitam di Amerika Serikat. Lalu, ada Nelson Madela yang dikenal dengan nobel perdamaian dunia yang diperolehnya setelah menjadi tokoh berpengaruh di Afrika Selatan yang melawan sistem Apartheid di Afrika Selatan. Apartheid merupakan sistem di tengah masyarakat di Afrika Selatan yang memisahkan masyarakat berdasarkan ras atau warna kulit. Pemisahan ini menimbulkan diskriminasi terhadap orang-orang berkulit berwarna. Mandela kemudian dikenal dengan gaya kepemimpinan yang merangkul para lawannya. Ketiga tokoh di atas memiliki kesamaan yakni berjuang menegakkan keadilan dan kedamaian. Pemimpin membawa kepada perubahan yang memberikan dampak yang baik bagi orang-orang sekitarnya.

Khotbah minggu ini juga mengajak kita untuk merenung tentang pemimpin. Pemimpin di sini merujuk kepada pemimpin jemaat, yang menjadi teladan di dalam pelayanan pemberitaan Firman Tuhan. Secara khusus thema khotbah menegaskan bahwa pemimpin kita adalah Yesus Kristus yang telah menderita, mati, dan bangkit untuk menyelamatkan kita dari dosa dan maut. Yesus adalah Pemimpin yang benar. Dia adalah teladan bagi kita umat-Nya. Pembuka di atas tidak ingin menyamaratakan Yesus Kristus dengan para pemimpin dunia. Akan tetapi hanya sebagai pengantar akan makna sebuah pemimpin di tengah masyarakat. Yesus tentulah jauh di atas seluruh pemimpin yang terkenal di dunia ini sebab Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat.

Teks khotbah minggu ini diambil dari Kitab Ibrani, yang secara umum tidak jelas siapa penulisnya. Akan tetapi para sarjana Alkitab menyimpulkan bahwa penulisnya adalah Rasul Paulus berdasarkan bahasa dan struktur penulisan surat yang sama dengan surat Paulus lainnya. Teks khotbah minggu ini mengajak kita untuk merungkan dan mendoakan para pemimpin di jemaat. Apa dan seperti apa pemimpin itu di tengah jemaat? Serta apa pesan khotbah ini bagi kita di masa kini? Mari kita telaah.

Ada tiga poin yang penting untuk kita renungkan: Siapakah Tuhan yang diproklamsikan di dalam teks ini? Apa yang diminta bagi kita untuk kita lakukan dalam keseharian kita? Apa berita sukacita dari firman ini bagi kita?

1. Tuhan kita adalah Yesus Kristus yang adalah Pemimpin yang benar. Penulis Kitab Ibrani menegaskan bahwa “ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu.” (ay. 7a). Kata yang dipakai adalah hegeomai yang merujuk kepada kata kerja ‘memimpin’. Kata ini juga diikuti dengan kata Yunani laleo, berarti berbicara. Pemimpin di sini merujuk kepada mereka yang memimpin dan berbicara tentang logos tou theo, yakni Firman Tuhan. Dengan kata lain, mereka adalah para pemberita firman. Menariknya, teks khotbah meminta kita untuk memperhatikan mereka dari kata Yunani anatheoreo, yang berarti mengamati. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menerjamahkan frasa ten ekbasin ten anastrhopes dengan “akhir hidup mereka.” Kata anastrhopes berarti 'gaya hidup' atau 'cara hidup'. Akan lebih tepat jika frasa ten ekbasin ten anastrhopes diterjmahkan dengan "hasil dari gaya hidup mereka." Dengan demikian jemaat diminta untuk mengamati gaya hidup mereka. Sebab gaya hidup para pemimpin jemaat akan menhasilkan damai sejahtera atas jemaat. Penulis Kitab Ibrani menekankan hasil dari gaya hidup atau cara hidup dari para pemimpin tersebut. Lalu, jemaat diminta untuk meneladani atau mencontoh iman mereka. Apa pentingnya memperhatikan atau mengamati hasil dari gaya hidup para pemberita Firman Tuhan? Sebab gaya hidup mereka memperlihatkan pemimpin seperti apa mereka. Sebab perkataan bisa saja baik, tetapi kelakuan buruk. Terlebih ada fenomena ajaran sesat, yang dapat memecah jemaat. Oleh karena itu, di ay. 9 ditegaskan agar jangan disesatkan dan terpecah oleh ajaran sesat. Nampaknya pengajaran tentang makan dan minum menjadi perdebatan di tengah jemaat (lih. ay. 9b). Penulis Surat Ibrani menegaskan bahwa yang paling penting adalah bahwa hati jemaat diperkuat oleh kasih karunia (ay. 9a).

Lalu, Penulis surat ini menegaskan bahwa Yesus Kristus tetap sama (ay. 8a). Berbagai macam pemimpin jemaat silih berganti dengan tata Kelola pelayanan dan berbagai aturannya. Akan tetapi Yesus yang diajarkan itu adalah sama. Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat kita yang telah menebus kita dari dosa dan maut. Yesus Kristus juga yang telah menganugerahkan kepada kita keselamatan. Dia pemimpin yang memimpin kemanusiaan baru kita untuk hidup kudus. Dia memberikan teladan bagi kita agar kita mengasihi dan menaati TUHAN. Mengimani bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, yang menjadi pemimpin yang benar berarti kita meneladani hidupnya yang kudus. Firman Tuhan berkata kepada kita: “Kuduslah kamu sebab Aku kudus!” (1 Pet. 1:16). Yesus Kristus selama berada di tengah dunia ini memberikan teladan bagaimana kita harus mengasihi TUHAN. Di dalam Yesus, Taurat digenapi (lih. Matius 5:17). Dia adalah Firman yang menjadi manusia agar kemanusiaan kita menjadi baru dan Dia adalah teladan dan yang membenarkan kita (lih. Roma 5:12-21; 1 Kor. 15:21-22). Percaya kepada Yesus Kristus berarti kita meneladani Dia dan hidup seturut dengan Firman-Nya (lih. Yoh. 13:15).

2. Taatilah Pemimpinmu! Selanjutnya, teks khotbah ini mengajak kita untuk menaati pemimpin jemaat. Mengapa demikian? Penulis Kitab Ibrani dengan tegas menjawabnya sebab “mereka berjaga-jaga atas jiwamu” dan “mereka bertanggung jawab atasnya [jiwamu].” (ay. 17 b). Apa yang disampaikan oleh penulis ini mengingatkan saya ketika menadapat bimbingan ketika masih menjadi vikar atau calon pendeta. Di tengah pembinaan, Pembina menyebutkan bahwa tugas dan tanggung jawab seorang pendeta itu amatlah besar, karena berkaitan dengan keselamatan hidup seseorang. Pembina tersebut menganalogikan bahwa tugas pendeta itu seperti seorang dokter yang hidup seseorang tergantung padanya. Dengan membaca ay. 17 ini, apa yang dikatakan oleh Pembina tadi amatlah tepat sebab jiwa-jiwa warga jemaat adalah tanggung jawab para pemimpin jemaat atau pemberita Firman Tuhan. Kepada mereka (yang kemudian disebut pemimpin jemaat) digantungkan tanggung jawab untuk menggembalakan jemaat Tuhan. Oleh karena itu setiap nasehat dan ajaran yang benar patut untuk dituruti dan dipatuhi. Bagaimana dengan pemimpin yang korup dan jahat? Haruskah kita mematuhinya? Yesus di dalam pengajaran tidak spesifik berbicara tentang para pemimpin jemaat yang jahat. Yesus sebaliknya berbicara tentang pemimpin yang baik dan pemerintahan yang baik berasal dari Allah (lih. Ibr. 13:17: tentang pemimpin jemaat; Rom. 13: tentang pemerintah). 1 Tim. 3:1-6 dan Tit. 1:5-9 menggambarkan syarat-syarat menjadi pelayan di tengah jemaat yang dapat kita jadikan referensi. Ini menjadi auto-kiritk terhadap para pemimpin jemaat agar dapat menjalankan tugas panggilannya sesuai dengan tujuan Yesus, yakni agar semua orang percaya kepada-Nya dan diselamatkan (lih. Yoh. 3:16-17). Pemimpin yang korup akan menerima upahnya. Hematnya, Firman Tuhan ini meminta kita untuk taat kepada mereka, pemimpin yang takut akan Tuhan, yang menjalankan tugas panggilannya untuk mendatangkan damai sejaterah di tengah jemaat. Sebalinya, pemimpin jemaat yang korup haruslah ditegur (lih. Gal. 6:1-10). Ingalah apa yang kita tabur akan kita tuai (lih. Gal. 6:8).

3. Hatimu diperkuat dengan Kasih Karunia Allah. Penulis Surat Ibrani berkata bahwa “Sebab yang baik ialah, bahwa hati kamu diperkuat diperkuat dengan kasih karunia.” (ay. 9b). Kenapa dengan hati? Hati adalah pusat dari kehidupan kita. Kata Yunaninya adalah kardia. Di dalam pemahaman Yunani-Romawi dan juga di Yudaisme kuno bahwa hati itu adalah pusat kehidupan. Hati kita berperan penting dalam menunjang kehidupan kita. Jika hati kita senang apapun tantangannya kita akan penuh semangat dalam menjalani kehidupan. Sebaliknya jika hati kita kecup dan takut serta gentar dan penuh pesimisme, apapun yang kita miliki sekalipun kita diperlengkapi dengan baik, maka hidup akan terasa sulit dan berat (Bnd. Amsal 17:22).

Kita patut bersyukur sebab kita diberikan kasih karunia (kharis). Kata kharis dapat diartikan anugerah, pemberian yang berharga. Pemberian dimana kita sebenarnya tidak layak untuk mendapatkannya tetapi tetap diberikan. Demikian juga dengan kasih karunia. Itu adalah pemberian Tuhan melalui Yesus Kristus kepada kita. Anugerah keselamatan yang tidak bisa kita upayakan sendiri. Itulah harta yang paling berharga yang kita peroleh dengan beriman kepada Yesus Kristus. Bersukatilahlah di tengah tantangan hidupmu, ingatlah bahwa ada kasih karunia Tuhan padamu. Dengan itu kita diingatkan bahwa kita ini disertai-Nya di dalam menjalani hari-hari kita. Dia juga yang akan menguatkan hati kita untuk melalui semua tantangan hidup.

Tuhanlah yang memampukan kita melakukan firman-Nya. Tuhan memberkati!

TS

Comments

Popular posts from this blog

Peran Roh Kudus dalam Hidup Orang Percaya (Yohanes 14:15-26)

Mengasihi Musuh (Matius 5:38-48)

Menjadi Manusia Baru di dalam Kristus (Kolose 3:5-11)